Berita

JAKARTA, INAPEX.co.id – Rencana penghapusan pajak dikaji, ini merupakan angin segar disektor properti. Pasalnya, saat ini pemerintah melalui Kementerian Keuangan sedang mengkaji rencana penghapusan Pajak Penghasilan Pasal 22 (PPh 22) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) atas properti.

Langkah itu diharapkan dapat mengurangi beban biaya pengembang dan mendorong gairah industri sektor properti.

Sementara, rencana penghapusan pajak barang mewah atas properti ini juga disambut baik oleh perusahaan pengembang.

Sekretaris Perusahaan PT Intiland Development Tbk Theresia Rustandi mengatakan, insentif ini akan sangat mengurangi beban pajak yang ditanggung pengusaha pengembang selama ini.

“Selama ini, total pajak yang harus dibayar itu besarnya 42,5%, ada PPh 22 dan PPnBM di situ. Belum tambahan dari pembelian tanah dan material yang semuanya juga kena pajak,” ujar Theresia Rustandi, di Jakarta, belum lama ini.

Theresia Rustandi menilai, sejatinya aturan PPh 22 untuk properti sudah tak lagi relevan. Apalagi, aturan ini dulu diterapkan utamanya untuk mendata para wajib pajak.

“Tapi kan sekarang sudah ada tax amnesty, sudah transparan datanya. Negara lain juga setahu saya sudah tidak ada yang mengenakan PPh 22 atas properti,” ujar Theresia Rustandi.

Lebih lanjut Theresia Rustandi mencontohkan, PPh 22 dan PPnBM untuk apartemen misalnya, hanya memberatkan pembeli yang sebenarnya justru ingin mengefisienkan lahan.

Belum lagi, aturan pajak tersebut hanya berlaku untuk pasar primer, sementara pasar sekunder tidak demikian. “Bisnisnya kan jadi tidak sama,” tambah Theresia Rustandi.

Theresia juga mengatakan, realisasi kebijakan insentif ini bisa meringankan beban industri properti yang sampai sekarang masih terbilang berat. “Apalagi, multiplier effect sektor properti itu luas mencapai 174 industri yang menyertainya. Kalau properti bergairah, roda ekonomi juga bisa berjalan lebih baik,” imbuhnya.

Sementara itu, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) terus mendorong generasi milenial untuk menjadi pengusaha properti.

Diantaranya seperti aktif melakukan edukasi kepada mahasiswa dan pelajar di berbagai kampus dan sekolah.

“Kehadiran generasi milenial di industri properti sangat dibutuhkan karena mereka dapat memberikan inovasi yang tepat untuk pengembangan dan pemasaran produk hingga akses pembiayaan untuk generasi yang kelak mendominasi 34 persen populasi masyarakat Indonesia pada tahun 2020 nanti,” ujar Direktur Utama Bank BTN Maryono di Kampus Institut Pertanian Bogor (IPB) akhir pekan lalu.

Lebih lanjut dikatakan Maryono, edukasi sangat penting dilakukan bagi generasi melinial agar mau terjun menggarap bisnis properti. Itu karena prospek investasi properti saat ini sangat menjanjikan.

Hal ini seiring dengan maraknya pembangunan infrastruktur dan perkembangan transportasi massal yang menjangkau daerah pelosok hingga kota-kota besar di seluruh Indonesia.

“Kehadiran Bank BTN di kampus, berdirinya Housing Finance Center untuk memberikan workshop, pelatihan dan pengembangan merupakan salah satu strategi kami meningkatkan jumlah pengusaha properti serta kualitas para developer,” jelas Maryono.

Maryono menambahkan, ada delapan alasan mengapa menjadi pengusaha properti menarik yaitu ketersediaan lahan yang terbatas membuat investor memegang kontrol, daya juang ketika berinvestasi sangat tinggi.

Selain itu, nilai aset bisa ditingkatkan dengan modal minimum, mendapatkan capital gain dan cashflow, tidak menyita waktu, bank lebih suka memberikan pinjaman dengan jaminan properti dan investasi properti menjadi favorit investor besar atau kaya.

Maryono optimistis, para generasi milenial berpotensi sukses bergelut di sektor properti di Indonesia karena prospeknya yang cemerlang.

Ketertarikannya mengajak generasi milenial menjadi pengusaha properti, karena mereka diproyeksi menjadi tulang punggung ekonomi bangsa yang menentukan masa depan Indonesia.

“Untuk itu, kami berharap generasi milenial melirik bisnis properti yang ceruknya masih besar dan belum tergarap maksimal,” pungkasnya.

Source : https://inapex.co.id/penghapusan-pajak-dikaji-ini-angin-segar-di-sektor-properti/