Berita

AKURAT.CO, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan saat ini pemerintah kembali menyampaikan rasa optimisme terhadap pertumbuhan dan peningkatan kualitas ekonomi Indonesia. Meningkatnya ketidakpastian ekonomi global saat ini tidak membuat pertumbuhan ekonomi Indonesia menurun. Hal ini karena ekonomi Indonesia tetap meningkat dengan pertumbuhan pada tahun 2018 sebesar 5,17 persen (yoy), lebih baik bila dibandingkan tahun 2017 yang tercatat 5,07 persen.

“Dalam situasi seperti itu, pertumbuhan ekonomi yang tercatat sebesar 5,17 persen relatif cukup baik. Karena, angka 5,17 persen ini hampir tidak terjadi di negara lain, di tengah ketidakpastian ekonomi global yang terjadi pada saat ini,” ujar Darmin saat memberikan keynote speech pada acara HSBC Economic Update, di Jakarta, Selasa (30/4/2019).

Pemerintah, lanjut Menko Darmin, telah menyusun kebijakan-kebijakan yang membuat ekonomi Indonesia tetap solid di tengah gejolak perekonomian global. Kebijakan tersebut antara lain, pertama, peningkatan daya saing dan perbaikan iklim usaha, diantaranya melalui Online Single Submission (OSS), pemberian fasilitas insentif perpajakan, dan pengembangan program vokasional.

"Dalam jangka pendek, pemerintah juga akan melakukan perbaikan prosedur untuk mengurangi biaya ekspor dan memilih komoditas sektor-sektor unggulan," lanjutnya.

Kedua, kebijakan relaksasi perpajakan. “Untuk pertama kali, kita merumuskan, membuat aturan mengenai tax holiday yang sebesar sekarang. Hampir 200 kegiatan industri kini eligible untuk memperoleh tax holiday,” kata Darmin.

Bukan hanya aturannya yang diperjelas sehingga memangkas proses yang panjang, tax holiday kini dapat diberikan untuk masa pajak 5 hingga 20 tahun. Sebagian besar industri yang diberi fasilitas fiskal adalah kegiatan industri yang mulanya banyak sekali impor, seperti Petrochemical dengan semua turunannya, besi dan baja termasuk elektronik, serta basic chemical termasuk emas.

Adapun yang ketiga dengan mendorong peningkatan ekspor.

"Pemerintah mendorong agar komoditas-komoditas unggulan yang berasal dari Alam, mendapat hilirisasi industri untuk meningkatkan nilai tambahnya. Selain itu, simplifikasi prosedur untuk mengurangi biaya ekspor, diplomasi ekonomi dan peningkatan akses pasar,” tambah Menko Darmin.

Selanjutnya, keempat meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Peningkatan kualitas SDM sendiri dirumuskan dalam bentuk pendidikan dan pelatihan vokasi yang terdiri dari 3 (tiga) layer yaitu: (i) Balai Latihan Kerja (BLK), (ii) Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dan (iii) Politeknik.

“Pendidikan dan pelatihan vokasi perlu mendapat dukungan dunia industri. Pemerintah sendiri telah merumuskan super deduction bahwa apapun yang dibantu dunia industri dalam rangka diklat vokasi, bisa meminjamkan tenaga ahli, menghibahkan mesin untuk praktek, serta menyediakan tempat magang, akan diperhitungkan dalam bentuk nilai dan akan diganti 200% dari apa yang dia keluarkan,” tegas Darmin.

Lebih lanjut Menko Darmin menjelaskan, program vokasi juga perlu disempurnakan agar kegiatan belajar mengajarnya efektif membentuk lulusan yang siap kerja sesuai kebutuhan industri.

“Yang mau dilakukan pemerintah, setiap SMK harus punya modul yang jelas. Setiap tahun siswa perlu mendapat 2 standar kompetensi,” lanjut Darmin.

Sebagai penutup, Darmin menegaskan kembali bahwa dengan mempertimbangkan risiko global perang dagang dan risiko global lainnya, maka pemerintah menyatakan tetap optimis pertumbuhan ekonomi dapat lebih baik ditahun 2019.

“Walaupun kondisi global tidak mendukung, kondisi domestik dan kebijakan yang telah diambil akan mendorong pertumbuhan di tahun 2019 sehingga dapat mencapai momentum emas ekonomi Indonesia,” tegas Darmin.

Turut hadir dalam kesempatan kali ini antara lain: Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan, Wakil Menteri Keuangan Mardiasmo, Presiden Direktur Bank HSBC Indonesia Sumit Dutta, Ketua Kamar Dagang dan Industri Roesan Perkasa Roeslani, CEO dan Co-Founder Tokopedia William Tanuwijaya, dan Ekonom Chatib Basri

sumber