FORUM

Pasal 31 E atau PPh 4(2) Final atas Omset?

User / Member Content
Suprianto

11 Jan 2018 | 16:34


Dear Pajakku,


PT A Pada tahun 2016 jumlah Omset kurang dari 4,8 M, sehingga pada tahun 2017 PT A melakukan penyetoran PPh 4(2) Final atas Omset (1%), namun pada akhir tahun 2017 Omset PT. A melebihi 4,8 M.

Pertanyaan :

1. Apakah SPT Tahunan 2017 tetap dilaporkan Final?


Terimakasih
Moderator

11 Jan 2018 | 21:23


Sesuai dengan Pasal 3 ayat (2) s.d (3) PP-46/2013:
(2) Pengenaan Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) didasarkan pada peredaran bruto dari usaha dalam 1 (satu) tahun dari Tahun Pajak terakhir sebelum Tahun Pajak yang bersangkutan.
(3) Dalam hal peredaran bruto kumulatif Wajib Pajak pada suatu bulan telah melebihi jumlah Rp4.800.000.000,00 (empat miliar delapan ratus juta rupiah) dalam suatu Tahun Pajak, Wajib Pajak tetap dikenai tarif Pajak Penghasilan yang telah ditentukan berdasarkan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai dengan akhir Tahun Pajak yang bersangkutan.
(4) Dalam hal peredaran bruto Wajib Pajak telah melebihi jumlah Rp4.800.000.000,00 (empat miliar delapan ratus juta rupiah) pada suatu Tahun Pajak, atas penghasilan yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak pada Tahun Pajak berikutnya dikenai tarif Pajak Penghasilan berdasarkan ketentuan Undang-Undang Pajak Penghasilan.

Dengan demikian, dasar penerapan mekanisme penghitungan PPh Badan terhutang adalah peredahan bruto tahun sebelumnya. Sehingga dalam hal ini, SPT Tahunan PPh 2017 PT A menggunakan mekanisme PP-46/2017.

Namun perlu diperhatikan, sesuai dengan ayat (4), WP tersebut wajib menggunakan mekanisme PPh Pasal 25/29 untuk tahun pajak 2018. Sehingga dalam SPT Tahunan PPh 2017 (form 1771 hal. 2) WP harus memperhitungkan Angsuran PPh Pasal 25 untuk masa-masa pajak di tahun 2018 yang perhitungangannya menggunakan tarif pasal 17 atau 31E UU PPh.
Moderator

13 Jan 2018 | 14:57


Originally posted by Suprianto :
Dear Pak Moderator,

Jika tahun 2018 ternyata Omset PT. A, kurang dari 4,8 M.

Pertanyaan :

1. Apakah untuk tahun 2019, PT A wajib menggunakan mekanisme PP-46/2017, atau PT A bebas memilih akan menggunakan mekanisme perhitungan  PP-46/2017 atau wajib menggunakan menggunakan tarif pasal 17 atau 31E UU PPh.


Terimakasih

Dalam kondisi tersebut, pada tahun pajak 2019 WP wajib menggunakan mekanisme PP-46/2013. 

Mekanisme PPh 25/29 atau PP-46/2013 bukan pilihan bagi WP yang omset tahun sebelumnya kurang dari Rp 4,8 milyar. Jadi, jika omsetnya kurang dari Rp 4,8 milyar, tahun berikutnya wajib PP-46/2013. Demikian sebaliknya.
Moderator

16 Jan 2018 | 21:49


Originally posted by FRANGKY :
Dear Pak Moderator,

Menanggapi tulisan pak Moderator: "Namun perlu diperhatikan, sesuai dengan ayat (4), WP tersebut wajib menggunakan mekanisme PPh Pasal 25/29 untuk tahun pajak 2018. Sehingga dalam SPT Tahunan PPh 2017 (form 1771 hal. 2) WP harus memperhitungkan Angsuran PPh Pasal 25 untuk masa-masa pajak di tahun 2018 yang perhitungangannya menggunakan tarif pasal 17 atau 31E UU PPh."

Menurut petunjuk di lampiran PMK No. 107/PMK.011/2013 angka 7 dijelaskan Perhitungan Angsuran PPh Pasal 25-nya sebagai berikut:

Contoh:
Pada Tahun Pajak 2014 Wajib Pajak PT Pandiro Anugerah dikenai PPh yang bersifat final berdasarkan Peraturan Menteri ini. Berdasarkan pembukuan yang dilakukan diketahui bahwa peredaran bruto usaha sampai dengan akhir Tahun Pajak 2014 berjumlah Rp 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah). Dengan demikian pada Tahun Pajak 2015 PT Pandiro Anugerah dikenai PPh berdasarkan tarif umum Undang-Undang Pajak Penghasilan. Pada bulan Januari 2015 seluruh peredaran bruto PT Pandiro Anugerah adalah sebesar Rp 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah), dan PPh yang dipotong atau dipungut pihak lain (bukan PPh final) adalah sebesar Rp 51.000.000,00 (lima puluh satu juta rupiah).
 Penghitungan angsuran PPh Pasal 25 untuk Tahun Pajak 2015 adalah sebagai berikut:
 
Penghasilan bruto sebulan                                                                 Rp 200.000.000,00
 Biaya-biaya                                                                                        Rp 150.000.000,00
 Penghasilan neto sebulan                                                                   Rp 50.000.000,00
 Penghasilan neto sebulan disetahunkan                                           Rp 600.000.000,00
 PPh terutang (12,5% x Rp 600.000.000,00)                                        Rp 75.000.000,00
 Pajak yang dipotong/dipungut pihak lain                                             Rp 51.000.000,00
 PPh kurang bayar                                                                               Rp 24.000.000,00
 Angsuran PPh Pasal 25                                                                       Rp 2.000.000,00
 1/12 x Rp 24.000.000,00)
 
Angsuran PPh Pasal 25 untuk bulan selanjutnya sampai dengan bulan Desember 2015 adalah Rp2.000.000,00.

Apakah hitungan ini bisa diterapkan juga untuk menghitungan Angsuran PPh 25 bulan berikutnya?
 

Jawaban:
Ya, Penghitungan di atas merupakan Penghitungan PPh Pasal 25 untuk masa pajak Januari sd. Desember 2015. Sehingga dalam masa-masa pajak tersebut WP membayar angsuran PPh Pasal 25 (tetap) sebesar Rp  2.000.000.
Suprianto

12 Jan 2018 | 15:01


Dear Pak Moderator,

Jika tahun 2018 ternyata Omset PT. A, kurang dari 4,8 M.

Pertanyaan :

1. Apakah untuk tahun 2019, PT A wajib menggunakan mekanisme PP-46/2017, atau PT A bebas memilih akan menggunakan mekanisme perhitungan  PP-46/2017 atau wajib menggunakan menggunakan tarif pasal 17 atau 31E UU PPh.


Terimakasih
FRANGKY

16 Jan 2018 | 16:18


Originally posted by Moderator :
Sesuai dengan Pasal 3 ayat (2) s.d (3) PP-46/2013:
(2) Pengenaan Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) didasarkan pada peredaran bruto dari usaha dalam 1 (satu) tahun dari Tahun Pajak terakhir sebelum Tahun Pajak yang bersangkutan.
(3) Dalam hal peredaran bruto kumulatif Wajib Pajak pada suatu bulan telah melebihi jumlah Rp4.800.000.000,00 (empat miliar delapan ratus juta rupiah) dalam suatu Tahun Pajak, Wajib Pajak tetap dikenai tarif Pajak Penghasilan yang telah ditentukan berdasarkan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai dengan akhir Tahun Pajak yang bersangkutan.
(4) Dalam hal peredaran bruto Wajib Pajak telah melebihi jumlah Rp4.800.000.000,00 (empat miliar delapan ratus juta rupiah) pada suatu Tahun Pajak, atas penghasilan yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak pada Tahun Pajak berikutnya dikenai tarif Pajak Penghasilan berdasarkan ketentuan Undang-Undang Pajak Penghasilan.

Dengan demikian, dasar penerapan mekanisme penghitungan PPh Badan terhutang adalah peredahan bruto tahun sebelumnya. Sehingga dalam hal ini, SPT Tahunan PPh 2017 PT A menggunakan mekanisme PP-46/2017.

Namun perlu diperhatikan, sesuai dengan ayat (4), WP tersebut wajib menggunakan mekanisme PPh Pasal 25/29 untuk tahun pajak 2018. Sehingga dalam SPT Tahunan PPh 2017 (form 1771 hal. 2) WP harus memperhitungkan Angsuran PPh Pasal 25 untuk masa-masa pajak di tahun 2018 yang perhitungangannya menggunakan tarif pasal 17 atau 31E UU PPh.

Dear Pak Moderator,

Menanggapi tulisan pak Moderator: "Namun perlu diperhatikan, sesuai dengan ayat (4), WP tersebut wajib menggunakan mekanisme PPh Pasal 25/29 untuk tahun pajak 2018. Sehingga dalam SPT Tahunan PPh 2017 (form 1771 hal. 2) WP harus memperhitungkan Angsuran PPh Pasal 25 untuk masa-masa pajak di tahun 2018 yang perhitungangannya menggunakan tarif pasal 17 atau 31E UU PPh."

Menurut petunjuk di lampiran PMK No. 107/PMK.011/2013 angka 7 dijelaskan Perhitungan Angsuran PPh Pasal 25-nya sebagai berikut:

Contoh:
Pada Tahun Pajak 2014 Wajib Pajak PT Pandiro Anugerah dikenai PPh yang bersifat final berdasarkan Peraturan Menteri ini. Berdasarkan pembukuan yang dilakukan diketahui bahwa peredaran bruto usaha sampai dengan akhir Tahun Pajak 2014 berjumlah Rp 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah). Dengan demikian pada Tahun Pajak 2015 PT Pandiro Anugerah dikenai PPh berdasarkan tarif umum Undang-Undang Pajak Penghasilan. Pada bulan Januari 2015 seluruh peredaran bruto PT Pandiro Anugerah adalah sebesar Rp 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah), dan PPh yang dipotong atau dipungut pihak lain (bukan PPh final) adalah sebesar Rp 51.000.000,00 (lima puluh satu juta rupiah).
 Penghitungan angsuran PPh Pasal 25 untuk Tahun Pajak 2015 adalah sebagai berikut:
 
Penghasilan bruto sebulan                                                                 Rp 200.000.000,00
 Biaya-biaya                                                                                        Rp 150.000.000,00
 Penghasilan neto sebulan                                                                   Rp 50.000.000,00
 Penghasilan neto sebulan disetahunkan                                           Rp 600.000.000,00
 PPh terutang (12,5% x Rp 600.000.000,00)                                        Rp 75.000.000,00
 Pajak yang dipotong/dipungut pihak lain                                             Rp 51.000.000,00
 PPh kurang bayar                                                                               Rp 24.000.000,00
 Angsuran PPh Pasal 25                                                                       Rp 2.000.000,00
 1/12 x Rp 24.000.000,00)
 
Angsuran PPh Pasal 25 untuk bulan selanjutnya sampai dengan bulan Desember 2015 adalah Rp2.000.000,00.

Apakah hitungan ini bisa diterapkan juga untuk menghitungan Angsuran PPh 25 bulan berikutnya?