FORUM

Omset Berubah Menjadi Diatas 4.8 M

User / Member Content
BUDHI YANTO HALIMAN

09 Feb 2019 | 18:02


Dear Moderator,

Mohon Pencerahannya:

Di tahun 2018, Pembayaran Pajak masih mengikuti PP 23 dengan tarif 0.5 %
Nilai Omset di tahun 2018 ternyata sudah melebih 4.8 M

Pertanyaannya :

1. Bagaimana cara menghitung Pajak pasal 25 bulanan untuk tahun 2019?
2. Bagaimana kalau perhitungannya di 2019 ternyata Rugi, apakah tetap harus membayar pajak psl 25 ?

Terimakasih
Budhi
Moderator

11 Feb 2019 | 19:18


Jawaban 1:
Sesuai dengan Pasal 7 ayat (2) PP-23/2018:
Atas penghasilan dari usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) yang diterima atau diperoleh pada Tahun Pajak - Tahun Pajak berikutnya oleh Wajib Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikenai Pajak Penghasilan berdasarkan tarif Pasal 17 ayat (1) huruf a, Pasal 17 ayat (2a), atau Pasal 31E Undang-Undang Pajak Penghasilan.

Sesuai Pasal 9 ayat (2) PMK-99/PMK.03/2018:

Besarnya Angsuran Pajak Penghasilan Pasal 25 untuk Tahun Pajak pertama Wajib Pajak memilih dikenai Pajak Penghasilan berdasarkan Ketentuan Umum Pajak Penghasilan diatur sebagai berikut:
a.    bagi Wajib Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 ayat (7) huruf b dan huruf c Undang-Undang Pajak Penghasilan, besarnya angsuran pajak adalah sesuai dengan besarnya angsuran pajak bagi Wajib Pajak tersebut; dan
b.    bagi Wajib Pajak selain Wajib Pajak sebagaimana dimaksud dalam huruf a, penghitungan besarnya angsuran pajak diberlakukan seperti Wajib Pajak baru,
sesuai ketentuan dalam Peraturan Menteri Keuangan mengenai penghitungan besarnya angsuran pajak penghasilan dalam tahun pajak berjalan yang harus dibayar sendiri oleh Wajib Pajak baru, bank, sewa guna usaha dengan hak opsi, badan usaha milik negara, badan usaha milik daerah, Wajib Pajak masuk bursa, dan Wajib Pajak lainnya yang berdasarkan ketentuan diharuskan membuat laporan keuangan berkala termasuk Wajib Pajak Orang Pribadi pengusaha tertentu.

Dengan demikian, Penghitungan PPh Pasal 25 untuk tahun 2019 adalah dengan menggunakan Penghitungan Besarnya Angsuran Pajak Penghasilan Dalam Tahun Pajak Berjalan Yang Harus Dibayar Sendiri Oleh Wajib Pajak Baru sebagaimana diatur pada Pasal 2 PMK-255/PMK.03/2008 stdtd. PMK-208/PMK.03/2009.

Ketentuan Penghitungan Besarnya Angsuran Pajak Penghasilan Dalam Tahun Pajak Berjalan Yang Harus Dibayar Sendiri Oleh Wajib Pajak Baru sebagaimana diatur dalam ketentuan tersebut antara lain:
(1) Besarnya angsuran Pajak Penghasilan Pasal 25 untuk Wajib Pajak baru adalah sebesar Pajak Penghasilan yang dihitung berdasarkan penerapan tarif umum atas penghasilan neto sebulan yang disetahunkan, dibagi 12 (dua belas). 

(2) Penghasilan neto sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) adalah : 
a. dalam hal Wajib Pajak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) menyelenggarakan pembukuan dan dari pembukuannya dapat dihitung besarnya penghasilan neto setiap bulan, penghasilan neto fiskal dihitung berdasarkan pembukuannya;
b. dalam hal Wajib Pajak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) hanya menyelenggarakan pencatatan dengan menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto atau menyelenggarakan pembukuan tetapi dari pembukuannya tidak dapat dihitung besarnya penghasilan neto setiap bulan, penghasilan neto fiskal dihitung berdasarkan Norma Penghitungan Penghasilan Neto atas peredaran atau penerimaan bruto.
(3) Untuk Wajib Pajak orang pribadi baru, jumlah penghasilan neto fiskal yang disetahunkan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dikurangi terlebih dahulu dengan Penghasilan Tidak Kena Pajak.    

(4)    Dalam hal Wajib Pajak baru sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa Wajib Pajak badan yang mempunyai kewajiban membuat laporan berkala, besarnya angsuran Pajak Penghasilan Pasal 25 adalah sebesar Pajak Penghasilan yang dihitung berdasarkan penerapan tarif umum atas proyeksi laba-rugi fiskal pada laporan berkala pertama yang disetahunkan, dibagi 12 (dua belas).


Jawaban 2:
Dasar pengenaan PPh Pasal 25 sebagaimana diatur pada PMK-255/PMK.03/2008 stdtd. PMK-208/PMK.03/2009 adalah penghasilan neto sebulan yang disetahunkan, dibagi 12 (dua belas). Dalam hal dalam suatu masa pajak terjadi kerugian yang mengakitbatkan Penghasilan Neto yang disetahunkan menjadi negatif, maka PPh Pasal 25 pada masa tersebut menjadi nihil.