Rupiah Tembus Rp17.680 per Dolar AS, Apa Dampak Ekonominya?

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menjadi sorotan setelah menembus level Rp17.400 per dolar AS. Pelemahan rupiah ini dinilai tidak hanya dipengaruhi kondisi global, tetapi juga berkaitan dengan fundamental ekonomi domestik. 

Dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (UGM), Eddy Junarsin, menjelaskan bahwa tekanan terhadap rupiah muncul akibat kombinasi berbagai faktor ekonomi dan nonekonomi.  

Menurutnya, salah satu penyebab utama pelemahan rupiah adalah menurunnya surplus neraca perdagangan Indonesia. Meski ekspor masih lebih tinggi dibandingkan impor, selisihnya semakin kecil sehingga turut memberi tekanan terhadap nilai tukar rupiah.  

Selain itu, kenaikan harga minyak dunia juga menjadi beban tambahan bagi Indonesia yang masih berstatus sebagai negara net importer minyak. Di sisi lain, tingginya suku bunga acuan di AS membuat investor global lebih memilih menempatkan dana pada aset yang dianggap aman, termasuk dolar AS. 

“Arus modal asing di saat seperti ini tentu akan mengalir ke tempat yang lebih aman, dalam konteks pasar keuangan contohnya adalah Amerika Serikat,” kata Eddy, dikutip dari laman ugm.ac.id, Kamis (7/5/2026). 

Faktor yang Mendorong Pelemahan Rupiah 

Eddy menilai ada sejumlah faktor yang memengaruhi pelemahan rupiah saat ini, antara lain: 

  • Menurunnya surplus neraca perdagangan Indonesia; 
  • Kenaikan harga minyak dunia; 
  • Tingginya suku bunga acuan di AS; 
  • Arus modal asing yang keluar menuju aset safe haven; 
  • Kondisi fundamental ekonomi domestik, seperti inflasi dan ketergantungan impor. 

Kondisi tersebut menyebabkan tekanan terhadap rupiah semakin besar, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi global. 

Baca Juga: Konflik AS–Iran Memanas, Bagaimana Dampaknya terhadap Ekonomi Indonesia?

Dampak Pelemahan Rupiah bagi Ekonomi 

Eddy menilai pelemahan rupiah dapat memberikan dampak positif sekaligus negatif bagi perekonomian Indonesia. Di satu sisi, produk Indonesia menjadi lebih murah di pasar internasional sehingga dapat meningkatkan daya saing ekspor.  

Kondisi ini juga dapat mendorong pertumbuhan industri berbasis ekspor dan membuka peluang lapangan kerja baru. Selain itu, biaya produksi di Indonesia menjadi relatif lebih murah bagi investor asing yang ingin menanamkan modal melalui foreign direct investment (FDI). 

Namun di sisi lain, pelemahan rupiah dapat meningkatkan beban biaya bagi industri yang bergantung pada impor. Beberapa sektor yang berpotensi terdampak, antara lain: 

  • Industri energi; 
  • Pangan impor; 
  • Industri manufaktur berbahan baku impor; 
  • Sektor mesin dan alat berat. 

Kenaikan biaya impor tersebut berpotensi mendorong inflasi apabila terjadi dalam jangka panjang. 

BI Hadapi Dilema Kebijakan 

Dalam menghadapi tekanan terhadap rupiah, Bank Indonesia (BI) dinilai menghadapi dilema dalam menentukan kebijakan suku bunga acuan atau policy rate. 

Jika suku bunga diturunkan, pertumbuhan ekonomi diharapkan meningkat karena aktivitas bisnis dan konsumsi menjadi lebih kuat. Namun, langkah tersebut juga berisiko meningkatkan inflasi. 

Sebaliknya, kenaikan suku bunga dapat membantu menjaga stabilitas rupiah dan menekan inflasi, tetapi berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi serta meningkatkan pengangguran. 

Karena itu, Eddy menilai kebijakan moneter perlu dilakukan secara bertahap dan hati-hati agar keseimbangan antara stabilitas harga dan pertumbuhan ekonomi tetap terjaga. 

Pemerintah Perlu Jaga Kepercayaan Investor 

Selain kebijakan moneter, dukungan kebijakan fiskal dari pemerintah juga dinilai penting untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional. 

Menurut Eddy, pemerintah perlu menjaga komunikasi kebijakan secara jelas dan konsisten agar kepercayaan publik dan investor tetap terjaga. 

Ia juga menilai beberapa hal berikut perlu diperhatikan pemerintah: 

  • Menjaga kepastian dan keadilan hukum; 
  • Menjaga stabilitas politik dan keamanan; 
  • Memberikan insentif bagi dunia usaha; 
  • Mendorong kebebasan berinovasi; 
  • Mengelola utang negara secara efisien. 

Di tengah fluktuasi nilai tukar, investor individu juga diminta lebih berhati-hati dalam menentukan strategi investasi. Diversifikasi aset dinilai menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko di tengah ketidakpastian ekonomi global. 

Baca Juga: Konflik AS–Israel dan Iran Berpotensi Tekan Ekonomi Indonesia, Ini Jalur Dampaknya

FAQ Seputar Pelemahan Rupiah dan Dampaknya ke Ekonomi Indonesia 

1. Apa penyebab rupiah melemah terhadap dolar AS? 

Pelemahan rupiah dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari tingginya suku bunga di Amerika Serikat, kenaikan harga minyak dunia, arus modal asing keluar, hingga kondisi fundamental ekonomi domestik seperti inflasi dan neraca perdagangan. 

2. Apa dampak pelemahan rupiah bagi ekonomi Indonesia? 

Pelemahan rupiah dapat meningkatkan daya saing ekspor karena harga produk Indonesia menjadi lebih murah di pasar internasional. Namun, kondisi ini juga dapat membuat biaya impor naik dan memicu inflasi. 

3. Sektor apa yang paling terdampak saat rupiah melemah? 

Sektor yang bergantung pada impor biasanya paling terdampak, seperti energi, manufaktur berbahan baku impor, pangan impor, serta industri mesin dan alat berat. 

4. Apakah pelemahan rupiah selalu berdampak negatif? 

Tidak selalu. Pelemahan rupiah juga dapat memberikan manfaat bagi sektor ekspor dan menarik minat investor asing karena biaya produksi di Indonesia menjadi relatif lebih murah. 

5. Apa yang bisa dilakukan pemerintah untuk menjaga stabilitas rupiah? 

Pemerintah dan Bank Indonesia dapat menjaga stabilitas rupiah melalui kebijakan moneter dan fiskal, menjaga inflasi, mengelola utang negara, serta mempertahankan kepercayaan investor dan pelaku pasar. 

Baca Juga Berita dan Artikel Pajakku Lainnya di Google News