Warisan Digital Gubernur BI Perry Warjiyo di Bank Indonesia

Delapan tahun bukanlah waktu yang singkat bagi bank sentral untuk bertransformasi. Dalam kurun tersebut, Bank Indonesia (BI) tidak hanya menjalankan perannya menjaga stabilitas moneter, tetapi juga mengubah wajah sistem pembayaran nasional menjadi semakin modern, cepat, dan terintegrasi. Di balik berbagai perubahan itu, ada sosok Perry Warjiyo yang mengomandoinya sejak 2018. 

Kini, babak kepemimpinan tersebut resmi berakhir. Perry Warjiyo mengundurkan diri sebagai Gubernur BI pada Minggu (26/7/2026) yang diumumkan pada Senin (27/7/2026). Meski demikian, berbagai inovasi yang lahir selama masa jabatannya akan terus menjadi fondasi bagi perkembangan ekonomi digital Indonesia dalam beberapa tahun ke depan. 

Di bawah kepemimpinan Perry, BI mendorong implementasi Visi Sistem Pembayaran Indonesia (SPI) sebagai arah transformasi sistem pembayaran nasional. Melalui visi tersebut, BI berupaya membangun ekosistem pembayaran yang lebih inklusif, efisien, dan saling terhubung, baik di tingkat domestik maupun internasional. 

Transformasi tersebut diwujudkan melalui berbagai kebijakan strategis, antara lain: 

  • memperluas inklusi keuangan melalui digitalisasi sistem pembayaran; 
  • meningkatkan efisiensi transaksi masyarakat dan pelaku usaha; 
  • memperkuat interoperabilitas sistem pembayaran nasional dan lintas negara; serta 
  • mempersiapkan Indonesia menghadapi perkembangan ekonomi digital. 

Lantas, apa saja inovasi yang menjadi warisan Gubernur BI Perry Warjiyo selama memimpin Bank Indonesia? Berikut ulasannya. 

Baca Juga: Resmi Jadi Sekretaris Jenderal DJP, Intip Profil Nurbaeti Munawaroh

1. QRIS, Satu Standar QR Code Nasional 

Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) menjadi salah satu inovasi terbesar Bank Indonesia dalam menyederhanakan transaksi digital. Melalui QRIS, masyarakat cukup menggunakan satu kode QR untuk menerima pembayaran dari berbagai aplikasi perbankan maupun dompet digital. 

Manfaat QRIS, antara lain: 

  • memudahkan transaksi tanpa uang tunai; 
  • meningkatkan efisiensi pembayaran bagi pelaku usaha; 
  • memperluas akses pembayaran digital hingga UMKM; dan 
  • mendukung percepatan inklusi keuangan nasional. 

2. BI-FAST untuk Transfer Dana Real-Time 

Bank Indonesia juga menghadirkan BI-FAST sebagai infrastruktur pembayaran ritel nasional. Layanan ini memungkinkan transfer dana antarbank secara real-time selama 24 jam setiap hari dengan biaya yang lebih terjangkau. 

Keunggulan BI-FAST meliputi: 

  • transfer dana berlangsung secara instan; 
  • tersedia selama 24 jam setiap hari; 
  • biaya transfer lebih rendah dibanding layanan konvensional; dan 
  • meningkatkan efisiensi transaksi antarbank. 

3. SNAP untuk Integrasi Ekosistem Digital 

Bank Indonesia mengembangkan Standar Nasional Open API Pembayaran (SNAP) guna memperkuat konektivitas antarpenyelenggara sistem pembayaran. 

Melalui SNAP, integrasi antara: 

  • perbankan; 
  • perusahaan fintech; 
  • e-commerce; dan 
  • marketplace, 

dapat dilakukan dengan standar yang lebih aman dan efisien sehingga mempercepat inovasi layanan keuangan digital. 

Baca Juga: Profil Juda Agung, Wakil Menteri Keuangan Pengganti Thomas Djiwandono

4. QRIS Cross-Border untuk Transaksi Lintas Negara 

Transformasi pembayaran tidak hanya dilakukan di dalam negeri, tetapi juga diperluas ke tingkat regional melalui QRIS Cross-Border. Inisiatif ini memungkinkan masyarakat Indonesia melakukan pembayaran menggunakan aplikasi domestik di sejumlah negara ASEAN tanpa perlu menukarkan uang tunai. 

Beberapa manfaat QRIS Cross-Border meliputi: 

  • mempermudah transaksi wisatawan Indonesia di luar negeri; 
  • mendukung pembayaran menggunakan mata uang lokal; 
  • meningkatkan efisiensi transaksi lintas negara; dan 
  • memperkuat kerja sama sistem pembayaran kawasan ASEAN. 

5. Proyek Garuda dan Pengembangan Rupiah Digital 

Sebagai langkah menghadapi perkembangan ekonomi digital global, Bank Indonesia juga menginisiasi Proyek Garuda untuk mengembangkan Central Bank Digital Currency (CBDC) atau Rupiah Digital. 

Pengembangan Rupiah Digital bertujuan untuk: 

  • mendukung modernisasi sistem pembayaran nasional; 
  • menjaga kedaulatan moneter Indonesia; 
  • mengantisipasi perkembangan aset digital; dan 
  • memperkuat stabilitas sistem keuangan di era digital. 

Berakhirnya masa kepemimpinan Perry Warjiyo menandai pergantian babak di Bank Indonesia. Namun, jejak transformasi yang ia tinggalkan tak berhenti bersamaan dengan pengunduran dirinya. 

Setiap kali masyarakat memindai QRIS untuk bertransaksi, mengirim dana melalui BI-FAST, atau memanfaatkan layanan pembayaran digital yang semakin terintegrasi, inovasi yang dibangun selama delapan tahun terakhir masih terus bekerja di balik layar. 

Fondasi tersebut akan menjadi bekal bagi Indonesia untuk menghadapi perkembangan ekonomi digital yang semakin pesat, sekaligus memperkuat daya saing sistem pembayaran nasional di masa depan. 

Baca Juga Berita dan Artikel Pajakku Lainnya di Google News