Baru Berjalan, Simak Agenda KTT G20 2021

Sebagai bagian dari komunitas internasional, Indonesia aktif dalam berbagai pertemuan baik bilateral maupun multilateral. Salah satu pertemuan multilateral yang aktif diikuti oleh Indonesia adalah KTT G20. 

G20 (The Group of Twenty) adalah forum intergovernmental yang terdiri dari 19 negara dan Uni Eropa yang bekerja untuk mengatasi masalah utama terkait ekonomi global seperti stabilitas keuangan internasional, mitigasi perubahan iklim, dan pembangunan berkelanjutan. Indonesia pun turut mengikuti KTT G20 2021 yang baru saja diselenggarakan di Italia, sabtu lalu (30/10).

Dalam KTT G20 tahun ini terdapat tiga agenda yang menjadi fokus forum multilateral ini, yaitu implementasi pajak minimum global, mitigasi perubahan iklim, serta distribusi vaksinasi global. Pembahasan topik-topik inipun dibagi kedalam dua hari, hari pertama (30/10) membahas mengenai ekonomi (pajak minimum global) dan kesehatan (vaksinasi). Sedangkan topik perubahan iklim yang merupakan topik alot dibahas secara khusus di hari kedua (31/10). 

Di hari pertama, topik pajak minimum global dengan mudahnya mendapatkan konsensus dari negara anggota. Pajak minimum global sebesar 15% ini akan dikenakan kepada perusahaan multinasional dan teknologi besar di seluruh negara. Pajak ini akan mengakhiri kompetisi tarif pajak dan praktik tax haven di beberapa negara. Regulasi ini juga telah disetujui oleh hampir 140 negara yang menargetkan perusahaan-perusahaan besar seperti Apple, Google, Facebook, Amazon, dsb yang berlindung dari pajak rendah di beberapa negara. 

Meskipun topik pajak minimum global mudah mendapatkan konsensus, topik vaksinasi global ini sempat menjadi perbincangan yang alot. Beberapa negara mengeluhkan disparitas yang cukup signifikan antara negara-negara dunia pertama dan ketiga dalam program vaksinasi. Isu ini juga menjadi concern utama Indonesia dalam forum ini. Dilansir dari pernyataan Sri Mulyani, akses vaksin yang tidak merata ini mengancam pemulihan ekonomi dunia. 

“Persaingan tidak jujur, proteksionisme dan ketidaksiapan negara-negara G20 atas pengakuan beberapa jenis vaksin, jelas menghambat laju vaksinasi global,” tegas Vladimir Putin. Hingga akhir, negara-negara G20 masih belum bisa menemukan solusi atas kesenjangan akses vaksin ini. 

Selain isu vaksinasi, Sri Mulyani juga menyatakan kekhawatirannya terhadap inflasi kenaikan energi dan disrupsi supply yang mampu mengancam pemulihan ekonomi global. “(fenomena ini) terjadi di negara-negara yang memiliki pemulihan ekonomi cepat. Sebagai komplikasi munculah kenaikan harga energi dan supply disruption,” ujar Sri Mulyani. Penawaran yang besar tidak diikuti oleh permintaan ketika ekonomi pulih dengan cepat dan mendorong pengendapan barang di pelabuhan-pelabuhan. 

Kekhawatiran ini pun di konfirmasi oleh pemerintahan Amerika Serikat, “Dengan dunia terguncang atas kenaikan harga energi dan rantai pasokan yang meregang, Biden berharap produsen energi G20 dengan kapasitas cadangan untuk meningkatkan produksi, terutama Rusia dan Arab Saudi, mampu memastikan pemulihan ekonomi global yang lebih kuat,” ujar pejabat senior administrasi AS. 

Terkait topik perubahan iklim, belum ada konsensus yang muncul mengenai komitmen kolektif yang akan dilakukan negara-negara terkait mitigasi yang akan dilakukan. Meskipun begitu, forum G20 ini akan dimanfaatkan untuk membangun momentum sebelum pembicaraan iklim PBB dua pekan kedepan.