Pernyataan Presiden Prabowo Subianto soal masyarakat desa yang disebut tidak terlalu terdampak pelemahan rupiah karena tidak menggunakan dolar AS menjadi perbincangan hangat di jagat maya. Namun, benarkah faktanya demikian?
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE), Yusuf Rendy Manilet, menilai dampak pelemahan rupiah tidak hanya dirasakan oleh orang yang bertransaksi menggunakan dolar AS. Dalam ekonomi modern, efek kurs bisa masuk melalui harga barang, biaya produksi, hingga kebutuhan pokok masyarakat.
“Dalam ekonomi modern, dampak kurs bekerja lewat rantai pasok, bukan lewat apakah seseorang memegang dolar atau tidak,” tegas Yusuf, dikutip dari KONTAN.co.id, Senin (18/5/2026).
Pelemahan Rupiah Bisa Masuk lewat Harga Barang
Meski masyarakat desa tidak menggunakan dolar AS untuk transaksi harian, ada sejumlah produk yang tetap bergantung pada impor atau bahan baku dari luar negeri. Akibatnya, saat rupiah melemah, biaya impor ikut meningkat dan berpengaruh pada harga barang.
Beberapa contoh dampaknya, antara lain:
- Pupuk urea dan NPK menggunakan bahan baku impor sehingga harganya bisa ikut naik.
- Pakan ternak masih bergantung pada jagung dan bungkil kedelai dari luar negeri.
- Harga solar dan energi ikut dipengaruhi kondisi global serta nilai tukar rupiah.
- Obat-obatan generik banyak memakai bahan baku dari India dan China yang dibayar menggunakan dolar AS.
Karena itu, pelemahan rupiah tetap bisa dirasakan masyarakat desa melalui kenaikan biaya kebutuhan sehari-hari.
Baca Juga: Rupiah Tembus Rp17.400 per Dolar AS, Bagaimana Dampaknya ke Ekonomi Indonesia?
Harga Pangan Berpotensi Ikut Naik
Ditambah lagi, Indonesia masih mengimpor sejumlah komoditas pangan penting. Ketika nilai tukar rupiah melemah, biaya impor pun meningkat dan berpotensi mendorong kenaikan harga makanan di pasar.
Produk yang dinilai rentan terdampak, antara lain:
- Tahu dan tempe karena kedelai masih banyak diimpor.
- Tepung terigu dan mi instan yang bergantung pada gandum impor.
- Gula dan produk olahannya yang menggunakan bahan baku impor.
- Harga hasil pertanian yang ikut terdorong karena biaya pupuk dan distribusi naik.
Kondisi tersebut dapat membuat pengeluaran rumah tangga semakin besar, terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah.
Daya Beli Masyarakat Bisa Menurun
Menurut Yusuf, warga desa justru termasuk kelompok yang paling rentan terkena dampak pelemahan rupiah. Hal itu karena sebagian besar pendapatan mereka digunakan untuk kebutuhan pokok seperti makanan dan energi.
Beberapa dampak yang bisa dirasakan, antara lain:
- Pengeluaran harian menjadi lebih besar akibat harga kebutuhan naik.
- Kemampuan menabung berkurang karena biaya hidup meningkat.
- Masyarakat harus mengurangi konsumsi atau menyesuaikan prioritas belanja.
- Petani kecil menghadapi kenaikan biaya produksi pertanian.
Yusuf memperkirakan pelemahan rupiah sebesar 10% bisa mengurangi daya beli rumah tangga sekitar 3% hingga 5% dalam beberapa bulan.
Dampaknya Tidak Selalu Terlihat Langsung
Yusuf lantas menegaskan bahwa efek pelemahan rupiah memang tidak selalu langsung terasa dalam waktu singkat. Namun, dampaknya bisa muncul perlahan melalui rantai distribusi dan kenaikan biaya produksi.
Beberapa bentuk dampak tidak langsung yang bisa terjadi, yaitu:
- Harga barang naik secara bertahap di pasar tradisional.
- Biaya transportasi dan distribusi ikut meningkat.
- Subsidi pemerintah untuk energi dan pangan menjadi lebih berat.
- Ruang fiskal pemerintah untuk bantuan sosial bisa semakin terbatas.
Karena itu, meski tidak memegang dolar AS secara langsung, masyarakat desa tetap dapat terdampak oleh pelemahan rupiah melalui berbagai sektor ekonomi yang saling terhubung.
Baca Juga: Konflik AS–Iran Memanas, Bagaimana Dampaknya terhadap Ekonomi Indonesia?
FAQ Seputar Dampak Pelemahan Rupiah
1. Apakah warga desa benar-benar tidak terdampak pelemahan rupiah?
Tidak sepenuhnya. Meski tidak menggunakan dolar AS secara langsung, warga desa tetap bisa merasakan dampaknya lewat kenaikan harga barang kebutuhan pokok, pupuk, hingga biaya energi.
2. Kenapa pelemahan rupiah bisa memengaruhi harga pangan?
Karena Indonesia masih mengimpor beberapa bahan pangan dan bahan baku produksi seperti kedelai, gandum, dan gula. Saat rupiah melemah, biaya impor naik sehingga harga produk ikut terdorong.
3. Apa saja kebutuhan warga desa yang bisa terdampak rupiah melemah?
Beberapa di antaranya adalah pupuk pertanian, pakan ternak, bahan bakar, obat-obatan, hingga makanan seperti tahu, tempe, dan mi instan.
4. Mengapa masyarakat desa dianggap lebih rentan?
Karena sebagian besar pengeluaran rumah tangga di desa digunakan untuk kebutuhan pokok. Saat harga pangan dan energi naik, daya beli masyarakat berpenghasilan rendah lebih cepat tertekan.
5. Apa dampak pelemahan rupiah bagi petani?
Pelemahan rupiah dapat meningkatkan biaya produksi pertanian, terutama untuk pupuk dan kebutuhan lain yang berkaitan dengan impor. Kondisi ini bisa mengurangi keuntungan petani kecil.













