Dinamis, Rupiah Alami Penguatan Pada Dolar AS

Rupiah bergerak secara dinamis untuk patokan pelunasan pajak atau kurs beli terhadap mata uang negara mitra yang berlaku sepekan ke depan. Rupiah terus melanjutkan tren penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Nilai kurs pajak untuk setiap US$1 ditetapkan sebesar Rp14.351 atau turun dari peringkat pekan lalu yang awalnya berada pada angka Rp14.318 per dolar AS.

Di sisi lain, rupiah berbalik tertekan terhadap Dolar Australia. Nilai kurs pajak ditetapkan sejumlah Rp10.733,24 per dolar Australia atau naik dibandingkan posisi minggu lalu pada angka Rp10.442,12 per Dolar Australia.

Kemudian, nilai kurs pajak pada mata uang Negeri Jiran ditetapkan senilai Rp3.403,73 per Ringgit Malaysia. Kurs pajak tercatat turun dibandingkan posisi di minggu lalu sebesar Rp3.408,74 per ringgit Malaysia.

Selanjutnya, rupiah tercatat melemah terhadap Dolar Singapura. Nilai kurs pajak ditetapkan senilai Rp10.570,73 per dolar Singapura atau naik dari posisi minggu sebelumnya pada angka Rp10.525,31 per Dolar Singapura.

Adapun nilai kurs pajak untuk setiap €1 ditetapkan sebesar Rp15.793,76. Kurs pajak terhadap mata uang zona Eropa terpantau naik signifikan, jika dibandingkan posisi minggu lalu berada pada angka Rp15.770,70 per Euro.

Kurs pajak ini ditetapkan sesuai Keputusan Menteri Keuangan (KMK) No.16/KM.10/2022. Kurs digunakan untuk pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM), pelunasan pajak pertambahan nilai (PPN), dan bea masuk.

Penguatan nilai tukar Rupiah ini selaras dengan penguatan mayoritas mata uang Asia. Hanya Baht yang tercatat melemah. Dilaporkan pula bank sentral Thailand akan memutuskan kebijakan suku bunga pada tanggal 30 Maret 2022.

Sementara indeks Dolar mencerminkan nilai tukar dolar AS terhadap mata uang utama dunia melemah ke 98,23, dimana sebelumnya menempati nilai 98,40. Dolar AS yang disebut safe heaven melemah setelah terdapat potensi perdamaian antara Rusia dan Ukraina.

Emas yang juga sering disebutkan sebagai safe heaven turut melemah pada hari ini. Sementara pasar saham menguat dan harga minyak yang anjlok pada pekan hari ini kembali naik perlahan.

Change Wei Liang, Macro Strategist DBS Bank di Singapura mengatakan, harapannya yang cenderung berhati-hati di tengah pembicaraan damai antara Ukraina dan Rusia serta penurunan harga minyak akan membantu sentimen pada mata uang emerging markets Asia.