Harga Pangan Melonjak Jelang Lebaran, Ini Biang Keroknya!

Tren kenaikan harga sembako jelang lebaran kembali terjadi di tahun 2024 ini. Berdasarkan data Indeks Ekspetasi Harga (IEH) yang dirilis Bank Indonesia menyebutkan bahwa ekspetasi harga barang pada Maret 2024 diproyeksi naik sebesar 137,4% dibandingkan bulan sebelumnya yang berkisar di angka 129,3%. 

Menyikapi hal tersebut, Kementerian Perdagangan (Kemendag) melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan di berbagai kota gencar melakukan pemantauan pada lebih 600 pasar tradisional di 500 kabupaten/kota. Hasil pemantauan menunjukkan bahwa sejumlah komoditi pangan kedepannya akan menjadi perhatian pemerintah, diantaranya komoditas cabai yang harganya terkoreksi cukup dalam. Catatan Kemendag harga cabai menyentuh Rp100.000 per kilogram pada Februari 2024, namun di Maret 2024 sempat turun ke Rp35.000 – Rp52.000 per kilogram. Selain cabai, komoditas lain yang juga ikut mengalami kenaikan signifikan adalah bawang putih, telur ayam, daging ayam, hingga beras.   

Fase Kenaikan Harga Jelang Lebaran 

Sekretaris Jenderal IKAPPI (Ikatan Pedagang Pasar Indonesia) Reynaldi Sarijowan memaparkan tiga fase kenaikan harga bahan pokok menjelang lebaran atau selama bulan suci Ramadhan.  

  1. Fase pertama terjadi pada 7 hari menjelang awal Ramadan, dimana pada fase ini sudah ada sejumlah komoditas yang mengalami kenaikan, diantaranya minyak goreng curah dengan harga kisaran Rp16.000 per kg, diikuti kenaikan cabai merah seperti yang telah disebutkan, cabai merah keriting Rp80.000 per kg, bawang putih yang akan merangkak naik ke level Rp 43.500 per kg. Memasuki minggu kedua dan ketiga. Pada masa ini harga bahan pokok biasanya akan kembali landai atau turun,  
  2. Meski sempat turun di pertengahan bulan Ramadan, di fase kedua yang biasanya 7 hari menjelang Idulfitri merupakan waktu yang perlu diantisipasi oleh pemerintah karena  berpotensi terjadi lonjakan harga bahan pokok. 
  3. Fase terakhir atau fase ketiga yang ada di H+7 lebaran sudah dapat dipastikan harga pangan akan mengalami lonjakan. Lantaran di masa ini masyarakat sudah kembali dari mudik dan menjalankan aktivitas rumah tangga, tetapi pasokan bahan pangan terbatas karena pedagang pasar belum seluruhnya berjualan dengan normal.  

Baca juga: Intervensi Pemerintah dalam Menstabilkan Harga Pangan

Upaya Pemerintah dalam Menstabilkan Lonjakan Harga 

Kendati demikian, pemerintah optimis bahwa stok pangan akan cukup dalam menghadapi hari besar keagamaan nasional (HBKN) seperti Hari Raya Idulfitri mendatang. Langkah konkret yang ditempuh pemerintah adalah upaya menjalankan enam langkah kebijakan untuk meredam kenaikan harga pangan, terutama beras yang merupakan pangan terpokok.  

Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kementerian Koordinator Perekonomian, Ferry Irawan dalam agenda pencanangan Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) 2024 Wilayah Kalimantan, pada Rabu (27/3) berkesempatan menjelaskan keenam langkah kebijakan tersebut.  

  1. Pemerintah berupaya dalam menjaga jumlah stok cadangan beras.  
  2. Melakukan percepatan penyaluran Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) di pasar tradisional, distributor maupun ritel modern. 
  3. Menyalurkan bantuan pangan beras kepada 22 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM)
  4. Pemberian intensif seperti pelaksanaan operasi pasar murah atau gerakan pangan murah. 
  5. Mengalihkan cadangan beras Pemerintah ke komersil untuk pengendalian harga beras premium. 
  6. Menerapkan relaksasi harga eceran tertinggi beras premium hingga April 2024.  

Baca juga: Pemerintah Siapkan Pasokan BBM dan Gas Bumi Selama Ramadan dan Idulfitri

Pihak terkait lainnya, Bank Indonesia bersama dengan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kalimantan juga turut meluncurkan berbagai program pengendalian harga dalam rangka penguatan stabilitas harga dan ketahanan pangan nasional. Program tersebut mencakup tiga poin berikut. 

  1. Pendirian Toko Penyeimbang untuk mengawasi pergerakan harga, terutama bahan pangan strategis, di pasar-pasar lokal di Kalimantan Timur.
  2. Program Ulama Peduli Inflasi yang bertujuan untuk memberikan edukasi tentang cara berbelanja dan berjualan secara bijak, khususnya selama bulan Ramadan dan Idulfitri, melalui media dakwah kepada masyarakat secara luas.
  3. Peningkatan peran Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) di seluruh Kalimantan sebagai penstabil harga dan penguatan rantai pasok komoditas pangan di wilayah Kalimantan.