Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengumumkan beberapa sektor belum tumbuh cukup baik setelah dilanda pandemi Covid-19.
Ia mengatakan, setidaknya ada 27 sektor yang tumbuh di bawah level sebelum pandemi. Dikarenakan, sektor ini sangat bergantung pada skala dan luas penyebaran Covid-19.
Saat penularan meningkat, menjadi lebih sulit bagi mereka untuk bertahan. Karena, infeksi kasus Covid-19 tidak dapat diprediksi. Menyusul lonjakan varian Delta tahun lalu, Indonesia kini mengalami lonjakan varian Omicron.
“Industri ini erat kaitannya dengan pandemi. Jika pandemi dapat dijaga berkelanjutan, berbagai layanan seperti restoran dan transportasi akan normal dan kembali (naik),” kata Sri Muryani dalam konferensi pers KSSK.
Sri Mulyani menjabarkan, sektor-sektor yang pertumbuhannya di bawah level sebelum pandemi terdiri dari:
- Jasa pendidikan
- Jasa angkutan laut
- Jasa keuangan lainnya
- Industri mesin
- Industri manufaktur lainnya
- Industri kulit dan alas kaki
- Industri perdagangan mobil dan motor
- Industri kertas
- Industri kayu
- Jasa lainnya
- Industri semen
- Alat angkut
- Pengadaan gas
- Pelayanan makanan dan minuman
- Tembakau industri batubara
- Migas
- Industri karet
- Pertambangan migas
- Industri barang logam elektronik
- Industri tekstil pakaian jadi
- Angkutan sungai
- Pergudangan
- Akomodasi
- Angkutan rel
- Angkutan udara
Selain sektor-sektor diatas, terdapat beberapa sektor yang berangsur pulih yaitu sektor hortikultura, pengelolaan air dan limbah, industri makanan dan minuman, industri tanaman pangan, jasa penunjang keuangan, industri pertambangan seperti batubara, industri perbankan, real estat, kehutanan, ketenagalistrikan, serta perdagangan besar dan eceran.
Lalu ada dari sektor pertambangan logam, jasa kesehatan, jasa pertanian, perkebunan, industri kimia dan farmasi, jasa informasi dan komunikasi, dan industri logam dasar.
Kemudian dari industri asuransi dan dana pensiun, industri perikanan, industri furnitur, penggalian, konstruksi, peternakan, dan angkutan darat.
Sri Mulyani menjelaskan, pulihnya beberapa industri tersebut didukung oleh kebijakan fiskal dan juga kebijakan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).












